Urgensi Rencana dalam Hidup Kita

"Lah, udahlah, nggak usah direncana. Kadang kalo direncanain justru ga terlaksana,"

"Sudahlah, kita jalanin aja dulu,"

"Udah, gampang, nanti aja itumah, rencana itu kan hanya rencana, yang nentuin ya Allah," (yang ini bener sih)

Pernahkah kamu berpikir semacam ini? atau pernah mendengar orang lain mengatakan begini? Mari kita sedikit berbincang perihal rencana dan realita, Ci.

Malam tadi, aku memutuskan keluar kos setelah dua hari recharge energy di akhir pekan. Kebetulan ada teman yang menginap, jadi aku butuh beli kebutuhan untuk di kamar seperti tissu, sabun-sabun, dan stok odol. Di jalan pulang, aku memikirkan rencana untuk ke Cilacap minggu depan, sekalian ingin menyambangi Nyi Roro Kidul di pantai selatan, alias: aku kangen laut woi! Aku berencana ke sana dengan Cipa, salah satu temanku. Di tengah berpikir tentang rencana ke laut itu, tiba-tiba aku teringat kalimat-kalimat yang aku sebutkan di atas. Aku malah jadi bertanya-tanya, benarkah sesuatu yang sudah kita rencanakan malah seringkali tidak terlaksana? Sementara yang sifatnya aksidental (tanpa rencana) justru dengan mudah direalisasikan? Atau malah... sebenarnya, yang kita sebut dengan rencana, tidak betul-betul kita seriusi untuk direalisasikan? Apakah semua hal yang dilakukan "seolah" tanpa rencana, benar-benar dilakukan tanpa rencana? Bahkan, apakah mungkin sebuah perbuatan terjadi begitu saja tanpa ada rencana? Apakah semua rencana harus terlaksana? Dan terakhir, apakah rencana yang tak terlaksana menjadi sebuah kesia-siaan?

Bingung? 

Nah, sama.

Karena sama-sama bingung, aku bantu carikan beberapa referensi terkait rencana, perencanaan, dan hubungannya sama realita yang tidak sesuai.

1. Perencanaan itu nyata dan terbukti bisa bikin kita jadi more likely to act

Sebagai contoh, sebuah penelitian menemukan bahwa ketika seseorang sudah punya niat dan merencanakan secara jelas, misalnya “minggu depan ke pantai, belanja tisu, mau pergi sama Cipa,” maka kemungkinan besar rencana itu jadi terlaksana jauh lebih besar .
Penelitian itu menunjukkan adanya “intent–plan–action chain”: dari niat, lalu buat rencana, lalu aksi nyata. Jadi sekali-sekali, merencanakan malah mempermudah eksekusi, bukan bikin mandek. Nah, masalahnya di kita (aku khususnya ya) kadang cuma mandek di niat ga sih? wkwkw. Rencananya ngambang, apalagi aksi nyatanya. :)

2. Seringnya, “spontan” tetap ada proses planning-nya

Kita kadang suka bilang, “lah aku aja nggak direncana, eh jalan sendiri,” padahal otak kita tetap pakai proses mini-planning walau hanya sebentar.
Contohnya studi Mercenico di PLOS ONE, menemukan kalau seseorang yang spontan tapi berhasil melakukan sesuatu adalah yang secara tidak sadar memasukkan cue situasional (jalur mental), jadi “kalau aku laper, aku makan” itu sudah otomatis .
Jadi ya... spontan bukan berarti nol rencana~

3. Buat tetap tenang, direncanakan tapi juga siapkan fleksibilitas

Riset dari PMC mengungkapkan: mereka yang suka menyusun rencana mingguan, semangat kerja makin tinggi, gak terlalu mikir berulang (ruminasi), dan jadi lebih adaptif ketika ada hal berubah di jalan. Ini bener banget. Aku selalu berusaha mencatat apapun pekerjaan yang perlu diselesaikan (sekecil apapun), agar terarah dan aku tau apa yang harus aku kerjakan. Kalau enggak ada perencanaan, ya yang ada kita bingung sendiri, mau ngapain? targetnya apa? yang dicapai apa? ujung-ujungnya jadi mudah merendahkan diri sendiri karna nggak produktif. Huh. Jadi, Ci, ini artinya, bikin rencana itu penting tapi jangan kaku. Jadikan sebagai kerangka, bukan belenggu (anjay).

4. Manusia itu dinamis, bukan fokus di satu titik aja (kecuali masalah pasangan ya wkwk, fokus satu aja woi!)

Studi lain soal aktivitas fisik menemukan kalau manusia itu dinamis, memang sifatnya berubah, dan intensi kita juga berubah tiap hari. Kalau niat hari ini tinggi, bisa jalan. Kalau menurun, bisa batal. Tapi yang punya stabilitas niat, bakal konsisten lebih lama. Betul nggak?
Artinya, rencana yang bagus itu bukan cuma dibikin, tapi juga dikelola terus sesuai perubahan mood, energi, dan situasi. Kalaupun ada rencana yg terpaksa harus berubah, ya gapapa. Itu salah satu bentuk fleksibilitas kita terhadap realita.

5. Jadi, benarkah “nggak perlu direncanain”?

Bukan begitu. Rencana itu penting, asal jelas, tapi ya gapapa kalau harus berubah karena situasi dan kondisi di luar kendali. Rencana juga sebaiknya nggak bikin kita tertekan kalau ternyata gagal dan realitanya nggak sesuai ekspektasi. Kayak kalimat di awal, "manusia hanya berencana, Allah yang menentukan". :)

6. Kesimpulannya....

Setiap rencana itu bukan hutang, tapi janji ke diri sendiri. Rencana itu alat buat memberi arahan kita, bukan hukuman. Spontan itu ada aturannya, bukan tanpa pola, jadi plis stop bilang "jalanin aja dulu" tanpa pola/rencana yang jelas. Dan terakhir, batal itu bukan kegagalan, tapi tanda kita perlu adaptif dan kita bisa kok memaklumi dengan bilang, "okey, gapapa, ayo jalankan plan B, C, D,"  Aliass, jangan takut berencana! 

hehehe.

Sekian. Menerima kritik, saran, dan diskusi terbuka. 

Komentar

  1. menarik dan menyentil banget 🤗
    jadi semakin sadar, kalo Musci selama ini takut berencana karena Musci kurang fleksibel aja. Musci ga mau merasa kecewa kalo rencananya gagal. Sembunyi dibalek tameng "pasrah aja lah" tapi sebenernya Musci ga pasrah, ga tawakal gitu pas bikin rencana wkwkw... Satu lagi, karena Musci masih menganggap janji adalah hutang, jadi kalo Musci bikin rencana dan ga terlaksana, Musci rasanya masih punya hutang gitu wkwkwk... Thx suuuc

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah iya, insight menarik! Betul, aku juga seringkali masih takut untuk berencana karna takut kecewa/mengecewakan. Padahal ya rencana itu bukan hukuman, tapi arahan. Thank u for feedback yaa.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer